Keindahan dalam Sebuah Cello

Keindahan dalam Sebuah Cello

dari Konser The Bach Project – Yo-Yo Ma

Seperti banyak orang bilang, posisi menentukan prestasi. Ada harga ada rupa. Dan ada rupa ada bentuk. Inilah salah satu kesan yang AVI tarik, usai menonton Yo-Yo Ma di konser tunggalnya yang  berjudul The Bach Project, 6 Nopember 2019 di Jakarta International Theater,  Kemayoran Jakarta.

Yo-Yo Ma

Indonesia bisa dikatakan hebat atau lebih tepatnya ‘beruntung’, karena dari sederet  negeri yang pernah dipilih  Yo-Yoma untuk  The Bach Project-nya  untuk Asia Tenggara, Indonesialah negeri pertamanya. Untuk Asia, baru Seoul yang pernah dipilih Yoyoma untuk konser tunggal The Bach Project pada tanggal 8 September 2019 lalu.

The Bach Project adalah nama untuk konser tunggal yang dibawakan Yo-Yo Ma untuk membawakan 6 karya musikal dari komposer terkenal, Johan Sebastian Bach, melalui alat musik tunggal, yakni cello. Sejak bulan Agustus 2018, dia mulai melakukan semacam tour bergantian ke beberapa Negara Eropa, Amerika. Dimulai tanggal 1 Agustus 2018 di Denver, lalu dua minggu kemudian di Youngstown. Lalu beberapa minggu kemudian di Leipzig, Berkeley California, Washington DC, Montreal, Mumbai, dan lain lain kota hingga saat artikel kami tulis – Indonesia. Rencananya, bahkan Yo-Yo Ma bergabung dengan partner lokalnya disini, SukkhaCitta untuk konser di Museum Bank Indonesia dari tanggal 7 sampai 15 Desember 2019.

Dari balkon tengah

AVI sendiri datang dengan diajak oleh Rumah Audio Indonesia (RAI) yang mendapat undangan dari Shoemaker Studios,  salah satu yang berperan di show ini. Shoemaker Studio adalah studio musik non profit yang telah banyak bekerjasama dengan artis maupun professional  lokal maupun internasional.

Menyaksikan Yo-Yo Ma konser sendiri bagi AVI seperti pengalaman baru dengan melihat instrumen cello yang tampil sendirian di panggung. Meresapi musik dengan cello bagi kami tidaklah semudah menikmati sajian dari instrument gitar, piano atau instumen lain yang jauh lebih familiar di telinga.

Bahkan di tengah perjalanan, sempat hadir rasa bosan. Karena 6 suite terasa panjang dibawakan.  Maklum saja, karena jika orchestra, biasa mendengar satu kelompok musisi lengkap dengan instrumen bervariasi yang tentu terasa lebih semarak.

Di 6 suite, berturut turut, Suite No. 1, di G Major, BWV 1007,  Suite No 2, in D Minor, BWV 1008. Suite No. 3, In C Major, BWV 1009. Suite No. 4, In E Flat Major, BWV 1010. Suite No. 5, In C Minor, BWV 1011, dan akhirnya Suite No. 6, In D Major, BWV 1012. 

Demi mengusir rasa bosan yang  menyerang itu, AVI pun keluar ruangan lalu turun lantai  untuk kemudian berbincang sejenak dengan bung Bandi dan Hardy Nanda di luar ruang konser.  Ketika  berjalan turun lantai dasar kami lihat pintu masuk tidak dijaga. Iseng, AVI pun masuk ke dalam  dan melihat dari area bawah yang memang dekat dengan sang penyaji.

Menonton dari area bawah

 Terhenyaklah AVI ketika menyaksikan Yo-Yo Ma bermain dari jarak dekat. Instrumen cello terasakan indah sekali di telinga, betapapun baru ini AVI mendengar karya Bach ini. Di lokasi ini, luapan  emosi bermain instrumen yang terlihat mata, menyatu erat dengan nuansa musik yang terdengar oleh telinga.Kadang gerakan tangannya menggesek seperti melayang layang pelan, lalu menghentak, bak seorang chef yang memainkan racikan makanannya untuk nantinya dinikmati penikmat makanannya. Terasakan sekali bagaimana musik itu punya bodi, keakuratan, imaging, detil, kedalaman, dengan ruangan yang tak berbatas. Dan memang, gaya cello dalam menyajikan pesannya, berbeda dengan gaya ‘penuturan’ instrument gitar atau piano.

Pandangan mata pun menyapu sekeliling, dan membandingkannya dengan saat duduk di balkon area G tadi. Melihat treatmen ruangan dengan bentuk bentuk pemantul dan penyerap suara.  Lalu ruangannya yang bertata akustik khusus dan didesain untuk pementasan theater.

Untuk venue Jakarta International Theater ini didesain oleh desainer Aedas and Philip Soden, sementara keakustikan oleh Walters-Storyk Design Group. Untuk  sistem gedung ini dikerjakan oleh Meyer Constellation System. Di system suara, ada 238 speaker dan 51 mikrofon . Area stage seluas 48 m x 17.5 meter dilengkapi dengan stage rigging dan fly system yang dapat membopong objek bahkan hingga seberat 600 kilogram. Seperti info yang kami dapat, pementasan Yo-Yo Ma malam itu tidak memakai penguat suara, alias tampil unplugged. Tetapi beberapa pehobi yang kami temui, berpendapat – show ini memakai penguat suara.  

Saat menonton dari balkon atas

Mau pakai atau tidak, AVI tak begitu peduli, karena tokh  di lantai ini, kembali pandangan tertuju ke sosok Yo-Yo Ma dan dapat menikmati keindahan musik yang ditampilkannya, walau barang sejenak. Karena merasa tidak enak masuk ke area yang bukan sesuai tiket kami, tak lama  kemudian  AVI pun kembali ke luar ruangan.

 Di luar, lalu membayangkan kemudian, pemandangan  yang baru saja AVI nikmati dengan aat saat menikmati musik dari system stereo. Bagaimana kita bisa membayangkan bagaimana kira kira gerak bawaan dari sang musisi dari suara yang kita dengar. Terasakan bodi suara. Ambiensnya. Akuratnya. Ukuran suara dari perangkatnya. Bayangkan jika kita ingin menghadirkan nuansa ini di sebuah rekaman audio yang direkam dengan begitu sangat baiknya, apakah bisa ? Tentu bisa, seperti yang selama ini kita lihat di system high end audio. Disebut high end karena   mampu menghadirkannya kembali di rumah.  Tentu tidak mudah. Begitu ada, tentu perlu investasi yang tidak sedikit.   Maka harganya bisa terasa tinggi. Padahal, itulah nilai untuk ‘menghadirkan sang artis’ bernyanyi di rumah kita. Masalahnya tingga, apakah system dapat bermain optimal dengan ruangan yang keakustikannya mendukung. Jadi jika demikian, high end bukan lagii bermakna high price, karena tujuan pemiliknya sudah tercapai, yakni menghadirkan sang artis ke dalam ruangan.

Melihat ruang dalam dari balkon tengah

Menonton di dua titik berbeda. Di room G, lantai 6 yang ternyata area balkon, tempat yang tertulis di tiket untuk kami, memang beda kesannya dengan lantai dasar. Suara lebih detil, tetapi juga punya bobot berbeda.  Inilah titik yang dimana bisa kita jadikan acuan seperti ketika kita mendengar sajian musik dari stereo audio.

Dan akhirnya, inilah makna dari kalimat teratas di artikel ini. Bagaimana posisi kita duduk terhadap sumber musik, bisa menentukan bagaimana kesan pengalaman kita mendengar musik. Bisa menjadi ukuran bagaimana cepat lambatnya  ‘kian dewasa’nya telinga kita dalam menilai musik(prestasi telinga kita). Posisi beda, melihat musik dengan berbagai kriterianya juga berbeda.  Lantai G beda rupa dengan lantai dasar tadi.  Dan memang, akhirnya – seperti juga pada system stereo high end. Ada harga ada rupa.  

Inilah buah tangan  dari Yo-Yo Ma yang kami bawa pulang ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');