Konsultasi Sambil Diskusi Akustik Ruang

Konsultasi Sambil Diskusi Akustik Ruang

ESA bertandang ke ruang audio Boy Alimoedin

Coba perhatikan ruang audio anda. Apakah secara keakustikan sudah sehat sehat saja? Artinya, kondisinya sudah sedemikian ideal untuk sistem audio anda bermain dengan leluasa. Membuatnya bernyanyi. Sungguh sungguh bisa menyanyikan dengan indah sesuai kualitas rekaman yang diasupkan kepadanya sesuai kaliber sistem anda itu.

Kiri ke kanan : Sie Kek Cung, Boy Alimoeddin, Handy Wijaya, Kusnadi Pangestu dan Danny Chairil

Kalau boleh saran, jangan terhenti untuk mencari tahu lebih lagi, walaupun mungkin saja seorang teman anda berpendapat sistem anda sudah bagus. Entah karena tonal balancenya rata, stagingnya mewah, lebar, atau apalah bahasanya. Ini hanyalah tinjauan pendahulu. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu apakah sistem anda benar benar bisa bernyanyi di depan anda dengan indah?  Jika belum, mungkin saja ada beberapa penyebabnya. Bisa setting penempatan perangkat, kombinasi yang match antar sistem di kelasnya, ruangan yang belum sepenuhnya sehat tadi, dan lain lain.

Akustik di sisi depan ruang

Kalau di ruangan Boy Alimoeddin, problem yang kami ketahui bersama adalah, adanya reverb yang terlalu pendek. Sedangkan yang ditemui Handy Wijaya selain reverb tadi adalah masalah di dip, yang membuatnya menyarankan ruangan ini perlu memakai bass trap. Sedangkan untuk reverb yang kependekan tadi, Handy menyarankan beberapa hal. Salah satunya adalah dengan menghilangkan beberapa elemen ruang yang memakai bahan busa.

Saat itu ada beberapa pehobi audio yang merupakan rekan Boy, main ke ruangannya. Mendengarkan audio bersama, lalu karena merasa ada yang kurang oke dengan keakustikan ruangan, mulailah mereka berdiskusi tentang mengapa keakustikan ruang di sini masih belum sepenuhnya sehat. Apalagi disitu ada Handy Wijaya yang dalam pekerjaannya di ESA (Excellent Sound Art), memang sering mengerjakan keakustikan ruangan besar maupun kecil.

Alat ukur Omnidirectional

Handy kebetulan juga membawa beberapa alat ukur keakustikan. Sebut saja misalnya SPL Meter, lalu alat ukur yang berbentuk bola , dengan beberapa seperti driver speaker. Ini adalah alat ukur bernama Omnidirectional yang punya pola ukur 360 derajat suara.

Pertemuan ini bisa dianggap juga sebagai kesempatan pemilik ruang berkonsultasi dengan Handy yang mewakili ESA ini.

Berdiskusi tentang penempatan perangkat

Walau ada orang akustik, mereka yang berkumpul dan juga sedikit banyak tahu keakustikan, mengeluarkan pendapatnya masing masing terkait ruangan disini. Jadi asyik, saling tukar gagasan. Ada yang bilang ruang ini overdamp, sehingga suara vokalis yang tampil seperti ‘terbekap’. Terkait area ruang dengar, menurut Handy, area depan adalah yang sensitif terhadap kesimetriesan ruang.

Ruang Boy ini sebenarnya sudah tertata keakustikannya. Kami lihat di hampir seluruh ruang sudah dipasangi elemen akustik. Baik Difuser maupun bahan penyerap. Sempat kami ingat pendapat Handy yang mengatakan bahwa sebuah panel akustik seperti difuser, bagian bagiannya punya peran tersendiri dalam memantulkan maupun menyerap suara di frekuensi tertentu.

Dia mengambil sebuah bilah/modul difuser yang ada di ruang itu, sambil menunjukkan bagaimana difuser ini di area tertentunya memantulkan frekuensi 2 kHz ke atas. Sedangkan di di frekuensi bawahnya dia tidak memantulkan, dengan serapannya paling hanya sekitar 10-15 persen. Di frekuensi rumit, dia mungkin tak akan terlalu men-difuse sifatnya. Begitu pun dengan beberapa difuser lain. Di frekuensi high, dia akan memantulkan. Sedangkan di low memang menyerap. Melihat hal inilah, Handy menyarankan untuk tidak memakai terlalu banyak bahan gipsum karena bisa menghilangkan low-nya.   

Keakustikan sisi belakang ruang

Memang, untuk meletakkan difuser di ruangan, perlu perhitungan yang matang untuk mendapatkan sesuatu yang ideal. Tetapi bagaimana kalau sudah terlanjur terpasang?

Difuser di sisi kiri ruangan.

.

Inilah kunjungan pertama  AVI di ruang Boy. Tampaknya akan ada pertemuan lanjutan untuk menindaklanjuti apa saja yang disarankan oleh ESA ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');