Mengenal Istilah Frame per Second (fps)

Mengenal Istilah Frame per Second (fps)

Menurut pengertian umum, proyektor film adalah alat opto-mekanik untuk menampilkan gambar-gambar bergerak dengan memproyeksikannya ke atas sebuah layar projection. Gerakan gambar ini sudah tentu saja tidak saja harus bisa ditangkap, tetapi juga terekam dalam memori penikmatnya. 

Menurut teori kuntinuitas pandang (persistence of vision), otak dan retina mata manusia mampu menyimpan kesan sebuah image untuk sementara waktu, termasuk  ilusi gerakan yang dihasilkan saat serangkaian gambar film ditampilkan dalam kecepatan tertentu. Dari sini muncul istilah frame rate atau frame per detik(frame per second atau disingkat fps).

Frame rate dikenal juga dengan istilah Frame Frekuensi, yakni ukuran dari tingginya frekuensi pada saat sebuah perangkat penghasil gambar menghasilkan image berurutan yang disebut dengan ‘frame-frame’(frames). Istilah ini kadang disebut di bidang komputer grafis, kamera video, kamera film dan sistem penangkap gambar.

Umumnya, frame rate sebesar 16 frame per detik dianggap sebagai frekuensi terkecil gerakan kontinyu yang mampu ditangkap mata manusia. Kecepatan 16 frame perdetik ini kini kadang digunakan di kamera.

Sajian adegan di film yang dishoot pada 24 fps di Dallas Museum

Sejak lahirnya film bersuara, secara virtual semua projector film di beberapa bioskop memproyeksikan film pada kecepatan yang konstan sebesar 24 frame per detik. Mengapa sebesar ini? Ada alasan finansial dan teknikal tertentu. Tetapi ada beberapa format khusus seperti Showscan dan Maxivision yang ratenya lebih tinggi, seringkali 48 frame per detik. Film film bisu (silent film) biasanya tidak diproyeksikan pada kecepatan konstan tertentu melainkan bisa bervariasi. Ada kecepatan yang besarnya  sekitar 18 frame per detik bahkan lebih. Bahkan jangan kaget bila kadang film-film jenis ini lebih cepat dibandingkan kecepatan film kini yang selain gambar yang bergerak natural dan tidak patah-patah, juga ditunjang tata suara modern (24 frame per detik).

Scene di film Avatar ini, kabarnya dishoot pada 120 frame perdetik.

Ada cara untuk melihat ruang gelap (black space) diantara frame-frame ini, yakni dengan menutup  kelopak mata anda, lalu secara teratur anda buka-tutup beberapa kali. Jika  mampu melakukannya cukup cepat, anda akan bisa melihat secara acak  image yang ada diantara frame-frame yang ada.

Boks

Frame rate di Film dan TV

Ada tiga standar frame rate di bisnis TV dan pembuatan film :

  • 60i ( 60 interlaced fields atau sama dengan 29.97 frame) adalah field rate video standar per detik yang digunakan untuk TV format NTSC, baik dari sinyal siaran, DVD atau camcorder.
  • 50i (50 interlaced field = 25 frame-frame) adalah field rate video standar perdetiknya untuk TV berformat PAL dan SECAM.
  • 30p, atau 30-frame progressive, adalah format non interlace dan menghasilkan video pada 30 frame per detik.
  • 24p,  juga merupakan format non interlace, dan kini sering diadopsi oleh mereka yang ingin mentransfer sebuah sinyal video kedalam bentuk film. Tetapi para pembuat film dan video lalu beralih ke 24p untuk tampilan bioskop, walau apa yang mereka produksi tidak akan mereka transfer kedalam bentuk film, hanya karena tampilan dari frame rate. Ketika ditransfer ke TV NTSC, tingkat rate akan melambat ke tingkat 23.976 fps, dan bila diubah kedalam format PAL atau SECAM, rate akan kian cepat ke tingkat 25 fps. Kamera film 35mm memakai sebuah exposure rate yang sudah standar yakni 24 frame per detik, walau banyak kamera memiliki rate sebesar 23.976 fps untuk TV NTSC dan 25 fps untuk PAL/Secam
  • 25p. Ini adalah format video yang menjalankan 25 progressive (maka lalu ditambahkan huruf “p”) frame per detik. Rate ini asalnya dari standar TV PAL yakni 50i(atau 25 interlace frame per detik). Walau 25p punya daya tangkap hanya separuh dari yang mampu ditangkap 50i PAL, format ini punya tingkat resolusi vertikal yang lebih tinggi pada objek-objek yang bergerak ketimbang 50i. Selain itu, 25p lebih baik bila digunakan di keluaran progressive-scan(misalnya pada display LCD, monitor komputer dan projector), karena disini tidak ada interlacing. Sama seperti 24p, 24p sering digunakan untuk mendapatkan tampilan gambar sekelas gambar di bioskop (istilahnya “cine-look”). 
  • 60p, adalah format progressif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');