Menikmati Orang Utan

Menikmati Orang Utan

Kehebatan Desain dan Bahan Kayu

Ruangan Pro Audio saat IHEAC Show 2018 lalu (klik video di bawah ini) termasuk ruang dimana AVI sering mondar mandir masuk. Jika ingin diungkapkan dengan gaya canda, entahlah seakan ruang ini menyimpan daya magis tertentu. Mungkin datang dari kayu Mahony yang banyak tersebar di salah satu ruangannya, hahaha.

Ah bukan itu tentu. Kami merasa cocok saja dengan suara yang hadir, betapapun suaranya masih belum sangat optimal karena pengaruh keakustikan ruangan. Ruangan kamar ini terasa masih terlalu kecil untuk sistem dengan speaker seperti model Devore Fidelity Orang Utan 0/96 dan 0/93 bisa bersuara maksimal. Begitupun dengan speaker lain di ruang lain Pro Audio-nya bung Lukas ini. Untunglah, akustik dibantu oleh hadirnya kayu berjenis tonewood, yakni kayu Mahony dan rosewood, dalam rupa bundar dan kotak. Kayu yang warnanya muda adalah mahony, sedangkan yang warnanya tua adalah rosewood. Kayu kayu ini tonewood ini berfungsi sebagai  resonator, yang diletakkan baik di speaker, dinding, kaca, bahkan kursi.

Speaker ini dikenal punya sensitivitas tinggi, dan disukai banyak para antusias single ended triode. Begitupun dengan DeVore Fidelity, dengan bafel lebarnya dan termasuk speaker dynamic fullrange – punya tingkat sensitivitas tinggi, seperti di model 0/96-nya yang merupakan speaker 2-way dynamic dalam sebuah enclosure bass reflex. Orang Utan sendiri disebut sebut Lukas merupakan ‘adiknya’ speaker Audio Note. Karakter yang tertangkap kami, speaker ini punya karakter alami, bisa tampil garang, tetapi diajak mengayun pun nikmat. Kesan musikalnya ada.

Setelah tekun menyimak suara, pandangan mata tak bisa beralih dari yang namanya kayu kembali. Apalagi kemudian bung Lukas sempat mendemokan kebolehannya. Dia menghadap tembok putih di sisi kiri, berdiri sekitar 1.5 meter didepannya lalu berulang mengucapkan kata ‘halo’ dengan agak keras, dan terasa ada gema. Kemudian dia tempelkan sebuah kayu mahony bundar pada tembok tepat didepannya. Lalu pada titik yang sama dan kekerasan suara yang (kira kira) sama, dia kembali mengucapkan ‘halo’. Apa bedanya? Kesan gema suaranya nyaris hilang sama sekali. Memang, di ruangan ini, kita bicara saja di tiap titik, kesan  gema terasa kuat. Gemanya besar tetapi dengan kayu ini gemanya berkurang.

Orang Utan DeVore Fidelity

Mengapa bisa? Ilmiahnya tentu ada. Tetapi kayu mahony (yang juga dijualnya) ini memakai bahan kayu yang usianya sudah ratusan tahun. Ini menurut Lukas, dan kami percaya karena yang kami ketahui, Lukas termasuk pehobi yang takut akan Tuhan (haha).  Beberapa pehobi audio sudah menggunakan kayu kayu ini, sebut saja seperti pehobi asal Sukabumi yang memborong kayu kayu bundar dan kotak ini (kabarnya sebanyak 100 biji). Dan menurut pengakuan pehobi ini, improve-nya ‘sangat amat’ sekali, seperti tampil laidback, dan bisa membuat kesan lebih lebar dan tinggi.

Kayu kayu tonewood ini diimpor, dan merupakan jenis kayu yang digunakan di instrument musik. Kayu ini tentu bila digunakan, jadi merupakan elemen tambahan di ruangan, dan tentu bila tembok ruang berwarna putih, akan jelas sekali kehadirannya. Kami melihat Lukas juga menaruh kayu bundar dan kotak ini bahkan di bawah kursi dengar. Kami guyonkan, seolah ada jampi jampi dibawah kursi. Ternyata kayu (bundar  yang tonewood dan kotak yang mahoni) ini bermerk KS Acoustics (diambil dari nama pembuatnya, Kimsan – yang bekerjasama dengan Lukas) dijual per-set. Untuk yang bundar, dimana  satu set sebanyak 12 biji, seharga  4 juta rupiah. Untuk sebuah ruangan yang punya kendala akustik serius, seperti di ruangan pameran ini, tentu saja satu set tidak cukup.  Tonewood Ini adalah kayu resonator, dan ada yang berpendapat bahwa kayu ini lebih baik ketimbang jenis kayu lain dalam hal membawakan suara, termasuk dengan kayu ebony, yang biasa digunakan di grip gitar dan pada violin di bagian gesekan tangan yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');