Pehobi Sekaligus Kolektor Piringan Hitam

Pehobi Sekaligus Kolektor Piringan Hitam

Bertemu Ario Kalijanto di Surabaya

Adalah seorang pehobi audio. Ario Kalijanto namanya. Ario sudah lebih dari 12 tahun bermain audio, dan  mengoleksi  ratusan piringan hitam beraneka genre.

Inilah dua rak besar tempat Ario mengoleksi piringan hitamnya

Ditemui di rumahnya, Ario berpendapat bahwa hobi audio itu diramaikan oleh satu kelompok besar dengan dua  pemikiran berbeda. Yang satu sangat memusatkan pada perangkat. Mereka ini  menurutnya   hanya ingin mendengarkan suara tetapi bukan musiknya. “Bas mu sak piro, seberapa rendah tendangannya, seberapa merdu merincing rincing, vokalnya seberapa basah dan lain lain. Itu kan namanya sound”katanya.  Kelompok kedua, merupakan orang yang senang music, dan kebetulan didukung oleh alat yang bagus.

Berikut adalah petikan wawancara kami dengan Ario

Koleksi piringan hitam bapak terbilang besar. Lebih besar mana, dana  untuk alat atau untuk piringan hitam ini?

Tentu koleksi saya. Selain kuantitasnya besar, koleksi saja juga lebih mahal dibandingkan alat. Mencari software ini perlu bepergian, melanglangbuana. Lain sama alat, tinggal angkat telepon atau ditelepon. Didemokan, beres.  

Berburu ke mana saja?

Selain di Indonesia ya ke luar negeri yakni ke Kanada dan Amerika Serikat. Kebetulan anak saya  bersekolah di negeri ini. Negeri ini cinta sekali sama yang namanya piringan hitam. Jadi saat kesana mengunjungi anak, ya sekalian belanja disana.

Sudah lama main PH?

 Awal main audio sebenarnya saya pakai  CD. Di kedua negeri ini saya juga punya tempat langganan membeli. Kebetulan yang jual juga seorang audiophile. Dia sudah tahu selera saya.  Sering dia buatkan daftar koleksinya yang terbaru, khusus disodorkan ke saya, untuk bulan ini misalnya, lalu untuk bulan depan dan bulan lainnya. Tak heran bila koleksi CD saya juga banyak. Nah suatu kali saya lihat ada beberapa  piringan hitam di tokonya.  Saya bertanya, kok jual PH? Lalu dia mengajak mendengar dan membandingkan dengan CD. Saya senang suaranya. Sejak saat itu kemudian saya beralih ke PH. Tetapi memang ada nakalnya dia, yakni yang dipasangkan tadi adalah PH yang harganya  seribu dollar. Yang kualitasnya bagus tentu.Tak heran, begitu dikasi putar ke saya, saya kena.

Ario, memakai speaker Venture Audio dan turntable Continuum Caliburn

Lalu dikemanakan yang digital digital ?

Untuk perangkat, banyak yang kemudian saya jual. Tetapi untuk CD software, saya masih simpan tetapi menumpuk. Mau saya buang tentu sayang karena mencarinya cukup susah dahulu.

Apa album yang dahulu diputar dan membuat bapak jatuh hati?

Wah, album pertama dulu apa ya. Saya lupa, karena sekali beli saya banyak. Beli puluhan. Itu tidak termasuk yang  langka. Apa yang tidak langka disana, disini bisa saja langka. Maklumlah,  disana  mudah mencarinya. Penduduknya sudah 300 juta. Besar sekali jumlahnya, dan rata rata sudah bisa memahami musik dengan baik, dimana musik sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Sedangkan mencari piringan hitam disini kan cukup sulit. Kecuali kita ingin mencari  band local dahulu seperti Koes Plus mungkin berlimpah.

Inilah obrolan singkat kami dengan Ario, ketika kami kunjungi rumahnya di sebuah kawasan di Surabaya. Selamat bermusik pak Ario.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');