Revolusi Audio, Mengarah ke Streaming, Wireless dan Mobile

Revolusi Audio, Mengarah ke Streaming, Wireless dan Mobile

Tinjauan Gaya Hidup plus Interview dengan Tasindo Mandiri Indonesia

High end audio telah mengalami revolusi. Kini banyak pehobi lebih suka memakai cara yang praktis dalam memutar musik. Termasuk juga dalam bagaimana menyimpan data lagu. Mereka  lebih suka lagu dengan diputar dan didengarkan dengan tanpa memakai kabel (wireless).

Produk portable high end, cara lain menikmati audio resolusi tinggi dimana pun berada

Cukup dimaklumi bahwa audio tidak banyak mengalami perubahan teknologi karena pada dasarnya yang dikejar oleh pembuatnya adalah bagaimana menyajikan suara se-alami (natural) mungkin dengan membuat  sang artis dengan segenap pendukungnya ‘seolah tampil’ di depan penikmat music.Untuk bisa melakukan hal ini, salah satu usaha mereka selain meracik model baru, juga mengembangkan teknologi tersendiri  kepada bagaimana perangkatnya kian terhindar dari aneka gangguan yang terjadi selama proses pengolahan suara.

Di sisi lain, pasar high end audio memang terbilang kecil (niche market) salah satunya karena bagi banyak orang, sistemnya berharga mahal. Padahal disela-sela yang mahal ini, pembuatnya juga mengeluarkan seri seri yang kelas harga bawahnya, tetapi tetap memikul resolusi tinggi di audionya. Walau kecil, high end audio tetap ada pasarnya karena didunia ini tokh masih ada orang yang mengejar nilai tinggi di seni suara. Masih ada orang yang bernafsu  mengejar apa yang namanya ‘state of the art’.

Kini banyak penikmat musik resolusi tinggi, khususnya kaum milenial, lebih suka menikmati musik dengan unit portable yang wireless. Seiring dengan kian nyamannya bepergian dengan kendaraan umum, seperti MRT, LRT, Busway dan lain lain.

Akhir akhir ini, beberapa pembuat speaker hifi dan high end memakai teknologi wireless Bluetooth yang dipakaikan ke beberapa model perangkat terbaru mereka, misalnya speaker. Teknologi speaker Bluetooth, ditampilkan Dynaudio, lalu Polk Audio dan Moos Audio. Masing masing mengklaim sistemnya mampu memainkan audio resolusi tinggi bahkan hingga 24 bit 196 kHz. Bagaimana tanpa kabel sistem ini dapat menyajikan resolusi suara seperti layaknya penyampaian yang digunakan oleh sebuah kabel? Beberapa pehobi senior audio yang kami temui menyangsikannya. Teknologi wireless menurut sebagian mereka, lebih pas untuk mereka yang menyukai music hi fi. Sebagian lain mengatakan lebih pas untuk para pemula (begineer).

Pemutar high resolution Astell & Kern

Untuk audio yang lebih kepada musik hi fi, ada yang mengembangkan konsep cloud, dimana music akan distreaming langsung dari cloud ini.  Cloud dan streaming sebenarnya berkaitan erat, dimana dengan  wireless, audio juga dapat dialirkan dari gadget seperti smartphone, tablet dan lain lain melalui Bluetooth – ke speaker wireless. Di sisi desain, banyak desain dibuat lebih stylish dengan finishing yang menyolok mata dan kian dapat masuk ke desain interior.

Menemui Salim Sentausa, Tasindo Mandiri Indonesia

Kami pernah mewawancarai bung Salim Sentausa dari Tasindo Mandiri Indonesia. Sebagai importir produk audio high end stereo, tentunya juga Salim mengamati juga bagaimana perkembangan audio, khususnya dari brand yang dipegangnya.

Reimyo, salah satu brand yang dipegang Tasindo Mandiri Indonesia. Sistem ini merupakan sistem audio dedicated, murni high end audio.
  • Bagaimana perkembangan teknologi di setiap perangkat high end audio, khususnya dengan melihat brand yang dipegang Tasindo Audio Indonesia?

“Saya amati, untuk perangkat misalnya source, rata rata perlombaannya adalah bagaimana agar suara lebih dan lebih lagi ke analog. Sedangkan untuk pre amp, teknologinya lebih ke hybrid yang memadukan tabung dengan solid state. Begitu pun dengan power. Di perangkatnya, mereka mengaplikasikan apa yang menjadi kelebihan tabung dan solid state”.

Bagaimana anda melihat trend memilih perangkat antara orang Indonesia dengan negara lain, misalnya di kawasan Asia

“Sejauh pengamatan saya, di Jepang kini orang lebih suka power yang kecil kecil tetapi suaranya besar. Ini bisa saja karena mereka concern tentang penghematan energi.  Disisi lain tentunya, untuk barang yang bagus, orang sudah tidak berbicara tentang bagaimana mengontrol listrik agar hemat, karena bicara high end adalah bicara kualitas. Tinggal bagaimana mentoleransi antara kualitas dan hemat energy tadi”

Bagaimana dengan perkembangan speaker high end kini?

“Di speaker, saya melihat ada dua tren. Satu,  bagaimana agar bentuknya manis dan kesan pertama orang melihat itu bagus serta dapat menjadi bagian dari interior. Kedua, para pembuatnya mulai mengarahkan speakernya  juga  ke wireless, tanpa kabel, dengan trade off nya menurut saya adalah di kualitas  suara”

Akankah peran kabel akan sedikit tergeser?

“Bukan saja sedikit, bisa saja besar, khususnya kabel kabel speaker dan interkonek. Mereka yang punya kabel ‘nanggung’ akan  kalah dengan wireless. Kabel yang sudah pasti aman adalah power cord, karena tak mungkin orang main audio tanpa power cord.  Kalau kabel interkonek dan speaker itu adalah  saingan dari Bluetooth”.

Apakah Tasindo punya rencana memasukkan speaker wireless?

“Ada, yakni Elarc. Kami sudah memasukkannya ke Indonesia, baik yang tipe bookshelf maupun floorstanding.  Yang model speaker aktif juga ada. Elarc ini adalah pembuat speaker nomor dua terbesar di Jerman. Banyak woofer ribbonnya digunakan di speaker speaker high end audio, misalnya tweeternya yang digunakan di speaker Adam. ”

Anda percaya speaker wireless ini punya resolusi suara yang bisa sama dengan kabel?

“Dengan melihat beberapa speaker wireless yang kini ada di Indonesia khususnya, menurut saya untuk para pemula audio high end, more than enough-lah. Untuk convenience. Lebih kepada fun. Bukan apa apa, orang sudah terbiasa dengan main kabel juga. Juga ada yang biasa main speaker floorstanding”.

Bukankah teknikpenyampaian datanya sudah memadai juga untuk bermain di resolusi tinggi?

“Oya? Yang pasti, ini kan bermain di resolusi tinggi. Datanya perlu broadband tinggi. Tidak bisa yang terbatas. Oke saja dengan hard disk, tetapi resolusinya  apakah dapat diadopsi dengan wireless?”

Streaming audio bagaimana?

“Untuk teknologi ini ramai digunakan, tentu saja kita perlu bertanya tentang infra struktur di Indonesia seperti kabel optic, apakah sudah stabil dan tinggi? Kalau saya sendiri masih percaya kabel. Ini karena di udara itu banyak gangguan. Sedangkan kabel itu lebih aman dan lebih stabil. Bukankah yang dibicarakan disini adalah audio high end? Bukan audio yang sekedar untuk convenience dan fun.  Nah antara orang yang ingin sekedar fun atau ingin suara benar benar bagus tentu berbeda”.

Bagaimana anda melihat perkembangan audio high end dewasa ini,khususnya bila mau dibandingkan dengan beberapa puluh tahun lalu?

“Yang jelas, kini merk banyak. Tetapi menurut saya,  ada terjadi penurunan kualitas suara. Bisa saja ini karena banyak pemilik brand adalah pebisnis atau investor. Maka arahnya lebih ke business oriented. Hal baiknya memang, kita akan dapat melihat kualitas suara yang lumayan dengan harga kompetitif. Tetapi untuk dapat masuk ke yang top level, perlu passion. Hanya perusahaan yang punya passion dan suka utak atik yang baik di suara. Rata rata saya lihat justru ini datang dari perusahaan perusahaan kecil. Untuk bagus, tentu brand perlu memiliki karakter sendiri. Saya sendiri tidak terpesona dengan merk. Yang penting, value di suara dan harga, juga desain dan durabilitasnya bagaimana, serta tentu saja bagaimana dukungan after sales service-nya”.

Bagaimana dengan inovasi kabel audio high end yang ada di tahun ini sejauh pengamatan anda?

“Di kabel pemandangannya menurut saya sama seperti tahun lalu dimana orang bicara tentang material, konsep desain seperti bagaimana shielding-nya untuk mengurangi induksi serta signal loss. Lalu material seperti bahan copper, gold dan lain lain, bagaimana memadukannya dengan baik. Ini tentu sebuah pemandangan yang baik untuk dunia high end audio ini”

Bagaimana anda memilih sebuah brand untuk kemudian anda pegang di Indonesia, bagaimana pertimbangannya?

“Bisa saja dengan mencoba dahulu. Atau saya lihat dahulu siapa pemiliknya. Bagaimana filosofinya, tentang kabel dan lai lain. Bagaimana suaranya sejauh pengamatan orang atau pereview. Bagaimana harganya. Yang jelas, untuk kabel, saya tidak bermain di kabel kabel super high end. Tetapi bukan berarti dimata saya kabel super high end ini jelek. Hanya saja tentunya berpulang kembali kepada bagaimana perangkat yang digunakan”.

Kalau kemudian anda ingin mencobanya dahulu sebelum lanjut untuk menjualnya?

“ Pada intinya, kita tentu suka akan barang bagus dan ingin memilikinya. Jika saya, bisa untuk dimiliki sendiri atau dijual. Kalau saya ambil satu merk, saya  akan beli satu unitnya. Disini saya pilih yang flagshipnya. Mengapa? Karena dari situ saya bisa tahu bagaimana batas maksimal yang dapat dibuat olehnya. Bagaimana limitnya bisa diketahui dari sini. Bawahnya dari ini tentu banyak. Jika memang bagus, barulah saya menghubungi pabriknya, termasuk juga mendatanginya untuk tahu bagaimana bonafiditas merk ini. Termasuk juga bagaimana mereka dapat mendukung di after sales servicenya. Alasan saya, barang yang ingin saya jual ini harus dapat  dipertangggungjawabkan. Jangan sampai orang membeli barang yang harganya ratusan juta tetapi berapa tahun kemudian perusahaannya bangkrut. Di sisi lain, memegang merk ini seperti kita mau nikah, tentunya pacaran dahu”.

Dari brand yang dipegang Tasindo, brand apa saja yang di Indonesia dipopulerkan oleh Tasindo?

“Saya catat ada tiga, yakni Vincent Audio dan Sigma Acoustic. Merk quadral, dulu memang ada yang memasukannya ke Indonesia, dan kini kami mempopulerkannya”

Inilah gambaran tentang bagaimana dunia high end audio mengalami revolusi. Kini bahkan dunia audio sedang dimeriahkan oleh euforia para penikmat musik yang lebih suka produk portable file seperti headphone, earphone, pemutar high resolution portable, dan lain lain . Produk portable audio lebih memudahkan untuk menikmati musik dimana pun, dengan cara sangat mudah, tanpa meninggalkan resolusi suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ga('send', 'pageview');